Jumat, 10 Maret 2017

Ibu Jadi Inspirasi Terbesar

MENGABDI sebagai seorang guru bukanlah tugas yang mudah. Namun Wahyu Budi Lukitasari tak pernah mengeluh menjalankan tugasnya untuk mencetak generasi muda yang unggul.


Dibesarkan di Lingkungan Pendidikan

Tak heran bila atas jasanya, dia mendapat apresiasi sebagai guru berprestasi tingkat Kabupaten Jember.

Dirinya tak sendiri. Bersama 17 tenaga pendidik lainnya, wanita berhijab ini juga mendapat kesempatan untuk bertemu langsung dengan Bupati Faida. "Yang barengan sama saya dari Kecamatan Patrang ada dua yaitu pak Gatot Supriadi sebagai pengawas berprestasi dan Titik Rukmini sebagai kepala sekolah berprestasi," tuturnya.

Perempuan kelahiran 13 Oktober 1973 ini sudah cukup lama mengabdi sebagai guru. Sekitar tahun 1996 lalu dirinya sudah mengajar di daerah Banjarsengon. "Kemudian sejak tahun 2004 saya mengajar di SDN Jember Lor 1," lanjut wanita yang akrab disapa Luki ini.

Sejak kecil, Luki dibesarkan di lingkungan yang mengajarkan tentang pendidikan dan kesenian. Sang ibulah yang menjadi inspirasi terbesarnya untuk menjadi seorang guru. "Ibu saya merupakan seorang guru serta motivator terhebat buat saya," ungkap alumnus PGSD Universitas Jember tersebut.

Selain mendidik Luki menjadi seorang guru, sang ibunda juga mengajarkannya berbagai bentuk kesenian. Mulai dari menari, menyanyi, hingga membaca puisi. Tak heran jika semenjak kecil, anak kedua dari lima bersaudara ini kerap menjuarai berbagai lomba. "Waktu SD sering dapat juara baca puisi, juga waktu SMP sampai SMA," lanjutnya.

Saat ini, sebagai seorang pendidik, dirinya aktif mengajar siswa kelas VI dengan spesialisasi sains. Wanita yang tinggal di kawasan Baratan ini mengaku tak punya cara mengajar yang spesifik. "Seperti hampir semua guru memiliki cara mengajar yang sama, yaitu bagai mama proses belajar itu menyenangkan dan tidak tertekan tetapi tidak membuat gaduh," tuturnya.

Untuk materi-materi yang sulit dihafal, Luki memodifikasi materi tersebut ke dalam lagu yang mudah diingat. SEmentara pada materi yang membutuhkan alat peraga, dirinya juga berusaha untuk membuatnya sendiri. "Contohnya pada materi IPA yang menghafal, kita udah menjadi bentuk permainan," terangnya.

Selain itu, Luki juga memberikan materi dengan cara mengajak anak-anak bermain peran. Misalnya ketika mengenalkan rambu lalu lintas, dirinya membuat alat-alat peraga dari bahan-bahan yang mudah ditemui disekitar anak-anak.

"Dengan demikian, para siswa bisa menghafal lebih mudah," pungkasnya. (lin/cl/hdi)


Sumber : Jawa Pos Radar Jember, 24 Januari 2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar