FARADINSYA Ashari benar-benar menunjukan talentanya dalam seni tari tradisional. Berkat keseriusannya di dunia tari, saat masih SMP pada 2009 silam, putri pasangan Ady Ashari dan Siti Maysaroh berkesempatan mendapatkan beasiswa sekolah modeling and acting dari Expresio Entertaiment.Dikenalkan Tari oleh Sang Ibu
Beasiswa itu dia dapatkan setelah menyisihkan puluahn kandidat se-Banyuwangi.
Beberapa tahun berselang, juara dua dalam festival tari gandrung se-Kabupaten Banyuwangi juga berhasil direngkuh oleh gadis kelahiran Kalibaru, Banyuwangi itu. Menyusul berikutnya menjadi salah satu dari lima penyanyi terbaik dalam festival lagu tradisional bertajuk Karya Cipta Tari.
Belakangan, Dinsya, sapaan akrabnya, aktif di Jember Fashion Carnival (JFC). Keterlibatannya di JFC seiring dengan aktivitasnya berkuliah di Jember. Saat ini Dinsya terhitung sebagai mahasiswa semester 5 Fakultas Ekonomi Jurusan Manajemen Universitas Muhammadiyah Jember.
Tak hanya itu, di usianya yang ke-20 sekarang, Dinsya sudah mengelola sanggar tari di kampung halamannya. Sehingga, sesekali saat pulang ke Bantuwangi kerap mengajar tari di sanggarnya tersebut. Perkenalannya dengan tari berlangsung sejak usia TK. Kendati menaruh minat pada kegiatan tari menari. Adalah sang ibu yang tiba-tiba memasukkannya pada sanggar tari.
Mulanya, bukan jenis tari tradisional yang dia pelajari. Menginjak SD, dia fokus belajar belajar dance. Jenis tari yang dipandang lebih kekinian oleh kebanyakan anak muda sekarang. Menginjak usia SMP, dia mulai meninggalkan dance."Menurut saya penampilannya lebih terbuka. Jadi saya merasa malu,"ujarnya.
Berpaling dari dance, Dinsya lantas melirik tari tradisional. Di situ ternyata dia merasa nyaman dan cocok. Latar belakang sebagai gadis Banyuwangi lantas membawanya belajar banyak soal tari gandrung.(was/cl/har)
Sumber: Jawa Pos Radar Jember, 23 Januari 2017
Tidak ada komentar:
Posting Komentar