Kamis, 09 Maret 2017

Tetap Semangat


SETIAP keluarga yang tertimpa musibah tentunya akan merasakan kesedihan. Tidak terkecuali yang merasakan oleh Preti Sinta dan kelurganya.

Dapat Bantuan Buku Pelajaran


Rumah yang didiami Sinta dan keluarga besarnya di Dusun Gempal, Desa Pakusari beberapa pekan lalu rusak akibat puting beliung.


"Waktu itu hujan turun deras sejak siang. Terus sorenya ada hujan sampai rumah saya roboh,"tutur gadis yang akrab disapa Sinta ini, saat ditemui Jawa Pos Radar Jember di puing-puing rumahnya.

Kejadian robohnya rumah yang ia dan keluarga besarnya tinggalin berlangsung cukup cepat."Alhamdulillah, yang penting keluarga selamat semua,"tutur gadis kelahiran 25 Desember 2002 ini. Meski ditimpa musibah, Sinta dan keluarganya masih tabah.

Sesuai pesan dari ibu dan kakeknya, dia berusahan untuk tetap semangat belajar dan menjalani hari-
harinya meski di tengah kondisi yang serba terbatas dan tidak nyaman.

Selama beberapa hari Sinta sempat tinggal di tenda darurat yang dibangun BPBD Jemberdi ekat reruntuhan rumahnya. Tercatat, tiga rumah yang didiami keluarga besar Sinta, luluh lantak diterjang angin puting beliung.

Meski diterpa ujian berupa musibah bencana alam, Sinta mengaku tetap semangat belajar. Beberapa buku pelajaran milik pelajar kelas VII di SMP Terbuka yang ada di Desa Pakusari ini, memang rusak akibat basah terkena air hujan yang menembus rumahnya."Ada sumbangan buku dari guru juga relawan,"tutur Sinta.

Selain buku pelajaran, Sinta juga mengaku telah mendapat bantuan beberapa pakaian dan makanan sehari-hari. Namun ia tetap berharap rumahnya bisa segera di bangun kembali, agar ia dan keluarganya dengan nyaman.

Sebagai pelajar, Sinta juga mengantungkan cita-cita yang tinggi untuk masa depannya."Saya ingin jadi guru,"ujar putri pasangan Suhartono dan Sumiyati ini. Sehari-harinya, Sinta tinggal bersama ibu kandungnya yang bekerja sebagai buruh lepas dan kakeknya, sumiran, yang bekerja sebagai pemulung barang bekas.

Sinta memiliki cerita unik perihal namanya yang diambil dari nama artis India terkenal. "Waktu saya lahir, dukunjungi oleh pegawai gudang tembakau tempat ayah kandung saya bekerja. Mereka yang kasih nama ini ke ibu saya," tutur pelajar yang hobi membaca ini.

Belajar di sekolah terbuka menuntut Sinta untuk lebih mandiri. Ini karena dia setiap harinya hanya
belajar bersama lima rekannya dan tutor selama sekitar dua jam, yakin dari pukul 15.00-17.00. "Sekolahnya sore, di musala dekat sini. Saya pilih sekolah di sini karena murah dan bisa membantu orang tua," ujar gadis yang hobi membaca ini.

Meski bersekolah di sekolah terbuka, Sinta juga memendam keinginan untuk ikut lomba mata pelajaran Matematika dan IPA, sesuai minatnya, untu menguji kemampuan akademis Sinta. "Karena saya suka berhitung dari SD," tutur sulung dari tiga bersaudara ini. (mg/c1/hdi)




Sumber    : Jawa Pos Radar Jember,21 Januari 2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar