SEBAGAI mahasiswa sekaligus karyawan, tak mudah membagi waktu antara kerja dan kuliah. Namun, itulah yang dijalani Rifkia Wati Zahroh Kholilah. Dia bekerja di pagi hingga sore, lantas pada malam hari.
Ingin Menjadi Perangkat Desa
Mahasiswa semester 5 salah satu perguruan tinggi swasta di Jember tersebut mengaku sudah lebih dari dua tahun melakoni aktivitas semacam itu. Alhasil, gadis 20 tahun ini meski pandai-pandai mengatur waktu.Praktis, dia tak punya waktu luang sebanyak rekan seusianya. Kendati demikian, merasa bangga. Lantaran dengan hasil kerjanya tersebut ia bisa membiayai kuliahnya sendiri.
Sejak awal mendaftar di perguruan tinggi, tak pernah sekali pun ia meminta uang kepada orang tuanya. Sebagai anak keempat dari empat bersaudara, Cici merupakan satu-satunya di keluarganya yang mengenyam bangku kuliah."Bangga bisa kuliah sendiri. Soalnya, saya bukan dari keluarga berkecukupan," ujarnya.
Tak hanya mandiri, lantaran mengambil program ekstensi, banyak rekan kuliahnya yang berstatus pegawai dengan usia 30-an ke atas. Tak ayal,lingkungan pergaulan itu membuat dirinya memiliki padangan lebuh jatuh ke depan ketimbang rekan seusianya.
Dia mengaku lebih memahami kerasnya yang tidak terlalu berguna mulai dia tinggalkan. Berbeda dengan kebanyakan lulusan perguruan tinggi yang ingin kerja di perusahaan bergengsi, Cici mengaku lebih mengharapkan kelak bisa terlibat dalam pemerintahan desa, dinilainya, bisa membantu memberikan solusi bagi masyarakat seberapa. (was/cl/har)
Sumber: Jawa Pos Radar Jember, 28 November 2016

Tidak ada komentar:
Posting Komentar