SILAT bukan hanya untuk bekal beladiri. Sebab silat juga bisa membuat orang bugar dan sehat. Sehingga meski sudah memiliki tiga orang anak, Cholifah Nur Aida, tetap menekuni silat Tapak Suci.
Tularkan silat kepada Tiga Anaknya
Perempuan asal Desa Tanggul Wetan, Kecamatan Tanggul itu kenal silat sejak duduk di bangku sekolah dasar (SD). Bagi Aida, Silat sudah mendarah daging dengannya. Bahkan, kesibukannya menjadi staf di UPT Pengairan Sumberbaru, tak membuatnya meninggalkan beladiri asal perguruan Muhammadiyah tersebut.
Pesilat dengan sabuk kader utama itu kini tak hanya menjadi pelatih. Bahkan, mantan peraih perunggu di Kejurda proyeksi POn pada tahun 2003 silam itu, kini telah menjadi wasit juri Porprov Jatim.
"Tapak Suci berasas Islam, bersumber pada Alquran dan Assunnah, berjiwa persaudaraan," jelasnya.
Jiwa persaudaraan itulah, yang membuatnya semakin menegaskan bahwa silat bukan untuk gagah-gagahan. Terlebih, silat menjadi seni beladiri asli Indonesia. Selain itu, banyak relasi dia peroleh karena aktif di perguruan silatnya." Guru silat saya, Pak Gatot Sugiarto. Beliau sekarang Kepala UPT Pengairan Wuluhan," katanya.
Pengalaman selamanya selama menjadi pesilat profesional, dia tularkan kepada tiga orang anaknya. Bahkan, sejumlah kejuaraan mampu diraih anaknya yang masih duduk di bangku SD. Bakat anaknya bukan hanya menular darinya. Sebab sang suami, ternyata juga seorang pesilat dari perguruan yang sama.
Meski usia perempuan kelahiran 8 Agustus 1979 itu tak lagi muda, namun Aida memiliki janji akan terus mencintai seni beladiri, anggota Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) tersebut."Silat juga memiliki nilai seni yang tinggi. Meski olahraga, silat pun juga butuh selera seni tinggi,"jelasnya.
Dia pun berharap, supaya generasi bangsa mampu melestarikan seni beladiri yang membanggakan tersebut. Terlebih, kekuatan sebuah negara ada pada kekayaan karya seninya. (rul/cl/hdi)
Sumber: Jawa Pos Radar Jember, Rabu 16 November 2016

Tidak ada komentar:
Posting Komentar