KERJA bukan hanya berburu bayaran. Namun lebih pada membantu banyak orang. Terlebih, mereka yang membutuhkan. Seperti yang dilakukan Kurniwati, salah seorang pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) Komensos.
Bangga Hasil Kerja Diapresiasi Positif
Bunsu tiga bersaudara pasangan suami istri H. Kasan dan Hj Musrifah, ini rela blusukan ke plosok desa di Kecamatan Tanggul, hanya untuk melakukan validasi pendataan penerima mafaat"Saya takut program pemerintah ini tidak tepat sasaran. Karenanya saya harus teliti," ujarnya.Bagi Nia, tidak menjadi soal, pekerjaan berbanding terbalik dengan program studi yang ditempuhnya di Poltekkes Kemenkes Malang. Di mana saat dia kuliah, kampusnya mendidiknya jadi seorang bidan. Sampai dirinya pun, menyandang gelar Ahli Madya Kebidanan (Amd.Keb).
Secara subtansi kata Nia, keahliannya di dunia kesehatan, memiliki kesamaan soal pengabdian kepada masyarakat. Namun khusus pekerjaannya saat ini, PKH dinilainya lebih kepada pendekatan pekerja sosial profesional. Di mana dia harus menjadi masyarakat, yang mampu mendorong kesadaran ibu hamil, ibu menyusui hingga balita, supaya rajin menghadiri posyandu.
Bukan hanya itu, wajib belajar bagi anak usia sekolah, juga menjadi tugasnya untuk ikut mendorong hingga lulus SMA. Sehingga tidak ada alasan lagi, putus sekolah karena tidak memiliki biaya."Karena biaya sekolah siswa miskin, terkaver bantuan PKH,"tuturnya.
Ketulusan sebuah pekerjaan yang dia lakukan, ternyata mendapat respons positif warga pinggiran. Terlebih, pendekatan yang dilakukan, dinilai mampu menghadirkan sebuah manfaat. Sehingga tidak heran, meski baru dua bulan menjadi pendamping PKH, dia banyak dekat dengan warga yang mejadi dampingannya.
Kebanggaan muncul, saat kerjanya memperoleh apresiasi positif masyarakat. Salah satu bentuk nyata yang dirasakan, tidak jarang dia membawa pulang hasil bumi, yang diberi masyarakat yang tinggal di pelosok desa."Salah satu tolak ukur keberhasilan kerja, bisa diterima dengan terbuka oleh masyarakat," tuturnya.
Perempuan berumur 25 tahunn itu, akan terus memacu semangatnya berbuat yang terbaik untuk masyarakat miskin di Jember. Sebab dia yakin, program keluarga harapan mampu menekan angka kemiskinan di Jember. Bahkan, jumlahnya bisa sangat signifikan. (rul/cl/hdi)
Sumber: Jawa Pos Radar Jember, kamis 17 November 2016

Tidak ada komentar:
Posting Komentar